Kepala Divisi Sosialisasi KPUD Jatim ” Ngawur “
Yusufi Eko Sujarwo
50
Jawa Timur Minggu 20080629,
Bagaimana Demokrasi yang kita cita-citakan bersama, dapat berjalan sebagaimana mestinya. Kalau para ujung tombak demokrasi di negeri ini selalu di jalankan oleh orang-orang yang sama sekali nol persen kemampuan komunikasi dan Dedikasinya.
Ini lucu dan terjadi di Jawa Timur, KPUD dengan jujur menggambarkan dirinya sendiri tidak mampu walau sekedar untuk sosialisasi PEMILU. Untuk sosialisasi nomor urut calon gubernur, mereka merekrut
20 gadis cantik dari Paguyuban Ning Suroboyo.mereka tidak mampu menganalisa; bahwa Golput di negara seperti
Indonesia, adalah "GOLPUT AKTIVE", mereka (Golput. Red) sebahagian
besar ( 87 % ) di karenakan kecewa dengan Janji-janji manis para Calon
Ekskutif/ Legislatif yang Terpilih, oleh karena itu; keyakinan mereka
tidak akan goyah dengan sekedar menghadapkan mereka dengan cara-cara
kuno seperti itu, rata-rata dari mereka adalah orang-orang miskin, atau
orang-orang kaya yang memiliki hati nurani. mereka belum butuh sosok-2
Cantik, yang mereka butuhkan adalah makanan yang cukup bergizi, Tempat
tinggal yang layak, kesejahteraan dan Pendidikan. Seperti warga-warga
yang selama ini selalu dianggap Ilegal dalam bertempat tinggal
(Surabaya. Red), mereka selalu menanyakan, kenapa Rumah mereka saja
yang selalu di utak-utik, padahal hampir 80% Petak di wilayah Surabaya
lainnya masih Bersertifikat Hijau/Pethok D/Peninggalan Belanda,
sekarang menjadi Tanah Pemerintah. Koq Pemerintah tidak adil, yang satu
di kasih PDAM/Saluran Listrik dll, tapi yang lainnya tidak? (ungkap
sebagian warga). apa karena kami ini miskin ?, takut tidak membayar
iuran?, untuk apa Nyoblos, kalo yang kita Coblos tidak bisa melihat
ketidak-adilan ini?,,malah mungkin yang kita coblos tuh, Juga sama
seperti kita, rumahnya belum ada Sertifikatnya…..?, tapi Mereka
(Calon Terpilih. Red), mendapatkan Fasilitas Publik, malah bisa-bisa
yang setiap hari menakuti (Membuat Peraturan Daerah, yang justru
menciptakan Proses Pemiskinan. Red) kita dengan
penggusuran-penggusuran!!!.
Mereka malah melimpahkan tugas kepada Paguyuban Ning Surabaya. mari kita simak pernyataan berikut ini; “Kehadiran gadis cantik sangat penting untuk menarik minat warga
mendapat informasi tentang pilgub dan secara sadar menggunakan hak
pilihnya. Ini bisa meminimalisasi golput,” kata Arief Budiman, Kepala
Divisi Sosialisasi KPUD Jatim. apa tidak ada alasan lain selain mendahulukan kata-kata Gadis cantik?, kan bisa memakai ungkapan "Gadis-gadis Cerdas" misalnya. dan apakah ada peraturan daerah di negeri ini yang secara tegas, menyebutkan bahwa Pemerintah dalam dasawarsa ini memerlukan sejumlah SPG?, apa memang Pemilu harus di Promosikan?, bukannya di jaga kelangsungannya dengan terus menjaga Janji dan "Kepercayaan masyarakat"?. Bukan hanya karena sikap yang dengan sengaja menurunkan derajat kaum wanita/ Paguyuban Ning Soroboyo angkatan 2006-2008 dengan usia 20-22 tahun dan para SPG. tapi juga karena sudah banyak kalangan yang meresahkan Birokrasi kita, yang selama ini dianggap terlalu Gemuk, Sebahagian besar Bodoh dan tidak Profesional, dan hanya mampu sebagaimana halnya "Makelar Pasar". Hanya mampu merekrut dan menilai wanita dari sudut pandang Cantiknya saja, padahal kita semua tahu dan selalu memperjuangkan bahwa penilaian Ning/Putri di daerah dan Pusat agar selalu menitik beratkan "kecerdasan" sebagai "Agen Sosial Budaya", sebagai hal yang Pertama. Untuk acara sosialisasi ini, KPUD merogoh uang sekitar Rp 150 juta.YES