Sebaiknya Pemimpin tidak berkerangka pikir sebagai Provokator, Bangsa Indonesia Terancam terpecah belah dan Teradu Domba.
Yusufi Eko Sujarwo
Yusuf Kalla kurang Arif.
Pengurus Pesantren Protes Penyataan Jusuf Kalla
17 Oktober 2005
Pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla akan membatasi
kegiatan pesantren dalam menangani teroris diprotes kalangan pesantren.
Pesantren, didirikan bukan untuk mencetak teroris. Adalah cara pandang
negatif, pada setiap terjadi aksi terorisme di Indonesia selalu
dikaitkan dengan pesantren.
Pernyataan
Yusuf kalla Sebagai Wapres untuk membatasi kegiatan Pesantren dengan
adanya kasus2 terroris akhir ini Sungguh sangat tidak bijaksana karena
menimbulkan stigma seolah pesantren yang nota bene adalah tempat umat
Islam menuntut ilmu agama sudah diartikan lain, sungguh suatu pemahaman
yang dangkal seorang Wapres yang sebenarnya tidak perlu dilontarkan ke
media masa, kita tentu sangat sedih. terlepas dari pada itu kita sangat salut
dan bangga kepada Bapak Kapolda Bali yang justru wilayah keamanannya
yang selalu menjadi bulan-bulanan aksi terror tak sedikit pun
menyinggung bahwa terror yang terjadi adalah perbuatan dari agama
tertentu namun beliau lebih mengkedepankan pelakunya bukan
kepercayaannya. karena beliau sangat tahu didunia ini terror yang
terjadi bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa melihat kepercayaan
pelaku. mungkin Wapres perlu sedikit bertukar pikiran dengan bapak
Mangku Pastika Kapolda Bali.
Yusuf Kalla, Tidak jauh beda dengan Mucikari
Kembali
kaum perempuan direndahkan di negeri ini, dilecehkan martabatnya,
bahkan dianggap sebagai barang dagangan dan sebagai menu sajian untuk
para tamu dari manca negara. Pelecehan dan penghinaan terhadap
perempuan ini terlontar dengan kata-kata ringan tanpa beban –seakan
mewakili kesadaran sejati yang menyatakan- pada sebuah acara seminar
tentang Turis dan hebatnya lagi pernyataan itu di lontarkan oleh orang
nomor dua di negara ini, Wakil Presiden Yusuf Kalla.
Pernyataan Wakil Presiden Yusuf Kalla: “Jika ada turis Timur Tengah
jalan-jalan ke puncak mencari janda,ya tidak apa-apa. Turis-turis
tersebut akan memberi banyak keuntungan kepada para janda, anak-anaknya
dan dunia hiburan Indonesia. Yusuf Kalla juga menambahkan “ kalau janda
tersebut akan mendapatkan rumah yang layak , walau kemudian para turis
tersebut meninggalkan mereka, ya tidak apa-apa. Karena anak-anak mereka
akan punya gen yang bagus dan bisa menjadi aktor dan aktris televisi
yang cakep-cakep” (Jakarta Post, 29 Juni 2006)
Dari pernyataan di atas yang tersirat secara langsung adalah:
1. Merendahkan martabat perempuan, karena perempuan dapat dijadikan
objek pariwisata seksual bagi turis-turis yang datang ke Indonesia
2. Melegalkan perdagangan terhadap perempuan dan anak
3. Melepaskan tanggung jawab untuk melindungi perempuan
4. Melepaskan tanggung jawab pemerintah atas kesejahteraan perempuan dari tingkat produktifitasnya (kualitas perempuan)
5. Menunjukkan tidak adanya kepekaan atas akar persoalan pemiskinan perempuan
6. Bersifat rasis (merendahkan satu ras dan mengunggulkan ras manusia yang lain)
7. Kemiskinan solusi atau jalan keluar atas problematika kemiskinan
masyarakat, dan cenderung mengabsahkan masyarakat (terutama perempuan)
sebagai objek penarik kapital
Yusuf Kalla, Oknum Provokator Kelas Kakap
Dengan se-enak Perutnya, JK dengan sengaja mengadu Domba;
1. Demonstran BBM dengan Kaum Miskin Penerima BLT, Jusuf Kalla Buta; Tidak melihat bahwa akar masalah Penolakan bukan karena bersangkutan langsung dengan BLT, kebanyakan warga dan kepala daerah menolak, karena alasan ;
- Tidak adil dan merata (Pancasila hanya Idealita di ruang-ruang klas. Red),
- Pendataan yang semrawut ( Birokrasi Amoral ),
- tidak seimbang dengan kenaikan Harga-harga,
- Bersifat Money Politik ( Pengaburan asal Dana Hutangan/Hibah dari negara Kapitalis) untuk meredam Perlawanan terhadap Pemerintah yang mulai Totaliter- Monarki-Absolut kembali pada zaman Orde Baru,
- Malah akan memicu Inflasi yang tinggi, uang yang beredar di masyarakat akan bertambah banyak, padahal Barang (Produktifitas menurun/PHK/Pabrik mengurangi Produksi karena kenaikan BBM. Red), Jasa ( Pengangguran meningkat tajam)menurun. seharusnya Pemerintah mengajari Warganya untuk Produktif menciptakan Barang, Mengadakan Pelatihan Bagi Pengangguran. tidak malah Mencetak/Berhutang Uang, habis itu di bagi-bagikan. kalo negri ini hanya bisa mendatangkan Uang (Investor/Hutang. Red) tanpa daya untuk Produksi barang sendiri secara Mandiri, dapat di Pastikan untuk tahun-tahun yang akan datang Harga satu benih beras bisa mencapai 1 juta Rupiah, Tempe atau Krupuk pasti akan berharga Rp 500.000.000 karena Pemerintah hanya bisa mengajari warganya mengemis dan berdoa untuk datangnya Hibah-hibah dari negara-negara yang lebih maju yang ujung-ujungnya harus berhutang. seharusnya Pemerintah tetap menjaga kesetimbangan antara barang, Jasa, dan Uang. klo jumlah uang terus bertambah, ya pemerintah harus membakar,begitu juga jika sebaliknya (deflasi. Red) ya harus di potong. tidak malah trus mendatangkan Infestor asing/hutang/ menerbitkan Surat berharga dll. supaya nantinya tidak hanya selapis tipis masyarakat yang bisa menikmati Limpahan kekayaan Negeri ini.
2.Mengadu Domba Timur tengah dengan Indoesia
Simak Pernyataan Jusuf Kalla di berikut ini; "Kekayaan itu menurut hukum Islam adalah titipan Allah SWT. Lihatlah sekarang ini. Negara mana yang paling terkaya? Hampir semua negara-negara terkaya itu adalah negara Islam. Apakah itu Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Emirat Arab dan lainnya. Begitu besar kekayaannya. Akan tetapi, siapa negara yang paling miskin ? Negara-negara Islam juga seperti Bangladesh, Somalia dan lain-lain,” ujar Wapres.
Menurut Wapres, negara-negara kaya yang Islam dan negara-negara yang miskin juga Islam terjadi karena terbaliknya hukum Islam.
“Dalam hukum Islam, seperti zakat, infak dan sadaqah, itu adalah
penyaluran kekayaan, yang seharusnya dari negara kaya ke negara miskin.
Tetapi, apa yang terjadi sekarang? Justru yang terjadi adalah penyaluran kekayaan dari negara miskin ke negara kaya,” tambah Wapres.
Kalo kita jeli menyimak Pernyataan JK diatas, dapat kita ambil kesimpulan;
- Jusuf Kalla tidak lebih dari seorang Soeharto, sebagai seorang Pemimpin dia tidak malu-malu mengemis kepada negara-negara Timur tengah (memakai dan menjual ayat-ayat suci Tuhan. Red)Padahal Islam tidak mengajarkan kita untuk mengemis, tapi menganjurkan kita untuk memberi dan berbagi. Malah lebih elegan Soeharto, Soeharto lebih satria, Soeharto lebih memilih Berhutang, dengan berani dia bertandatangan nota kesepahaman untuk pengembalian hutang oleh Rakyat Indonesia, melalui mekanisme APBN. Paling tidak Soeharto mengajari masyarakatnya untuk punya rasa Tanggung Jawab, bukan menjadi bangsa yang akan di cap sebagai negara kaya sumber daya alam yang hanya bisa mengemis. Ayat-ayat yang dipinjam JK, dari Kitab suci itu seratus Persen Benar dan berprikemanusiaan. Cuman akan menjadikan bangsa ini tidak Punya rasa malu jika yang mengucapkan adalah seorang Wakil Presiden Indonesia. Ayat-ayat itu akan tepat jika di Ucapakan dan disampaikan oleh pihak-pihak Politikus dari Negeri Timur tengah Sendiri, sebagai kritikan terhadap pemerintahnya sendiri. akan benar jika yang mengucapkan adalah kalangan Aktivis/mahasiswa/praktisi/masyarakat/Dosen/politikus/Menteri atau pihak-pihak yang Notabenya adalah orang-orang Arab Saudi (Timur tengah. Red). Tapi jika yang mengucapkan itu dari pihak-pihak yang memiliki kekuasaan atas negara Republik Indonesia. maka yang ada hanya Gunjingan dari Dunia Internasional atas kekerdilan bangsa dan Para Pemimpin negeri ini, se kerdil orang yang dengan sengaja mengucapkannya di atas mimbar kehormatan dan berlagak seperti Ustad yang paling tahu Agama dan Ayat-ayat suci di dalamnya.Yang ada cuma rasa Prihatin terhadap Pahlawan-pahlawan Kemerdekaan dan para Pemimpin-pemimpin besar Negeri ini, semacam Soekarno dengan Orasi Agitasinya yang dengan bukti sejarah menjadikan Rakyat Indnesia Gagah berani hingga membuat lari terkencing-kencing siapapun yang ingin menjajah kembali bangsa Indonesia, Sultan Syahrir dengan Humanisme yang tidak berdewa terhadap kekuasaan dan Golongan-golongan serta terpetak-petak oleh suku, Ras, Agama, Nation bahkan Ideologi. belum ada Pemimpin yang mampu meneruskan cita-cita dari seorang yang pernah menjadi Dewan Sosialist di negeri belanda bersama rekannya yang bernama Johan Effendi tersebut. seorang Perdana Menteri yang masih Muda (menjadi PM Indonesia pada usia 36 tahun) mampu membuat bangsa Indonesia di Pandang Dunia Internasional sebagai bangsa yang berwibawa dan berprikemanusiaan. Moch Hatta dengan sosialisme Religiusnya membangun ekonomi kerakyatan Indonesia yang berbasis Koperasi. Sayangnya, Penerus mereka hanya sebatas Saudagar yang dimatanya cuma Uang, Uang dari hasil Mengemis, atau makelaran sumber daya alam.
- Tidak bisa menganalisa Akar Kemiskinan dan Proses Kemiskinan sebagai akibat dari Kebijakan-kebijakan yang tidak melibatkan bahkan memandang rakyat miskin di Indonesia. Dalam otak JK, Indonesia Miskin karena tidak di Sumbang Negara Timur Tengah. Padahal kita masyarakat sudah Paham Bahwa kemiskinan di negeri ini akibat KKN, Money Politik, Birokrasi Gemuk yang selalu menghambat laju Ekonomi dengan Selimut Pungutan Liar, Sumber Daya yang tidak boleh di kelola sendiri, Penyelundupan Pasir Laut yang mencapai; Rp 72 Trilyun, BBM mencapai Rp 50 Trilyun, Kayu Log Rp 30 trilyun, Kekayaan Laut Rp 36 triyun, dan Satwa langka Rp 100 Trilyun. Penggusuran ( Proses Pemiskinan) Pedagang yang tidak di sertai Solusi, Penggusuran Rumah yan tidak memperhitungkan Khos Ekonomi ; jarak Hunian dengan tempat Kerja, belanja dan sekolah untuk anak-anak (Contoh; Rumah Pekerja Pabrik di timur Kota di Relokasi dengan Rusun di sebelah Barat Kota, padahal biaya Transportasi mahal )
- Biasanya jika Pemerintah kekurangan APBN, Pemerintah tidak mengambil atau menggunakan aparaturnya untuk meminimalisasi Penyelundupan. tapi malah berhutang kembali kepada CGI, IMF, atau World Bank dll.YES
Kliping
-
MENGECAM Per…
-
MENGECAM Per…
-
MENGECAM Per…