Konser Tony Q | Jaringan Rakyat Miskin kota
menjadi berita hari ini lalu esok hancur, dan bangkit lagi setiap hari,
kota raksasa yang meruang di kamar tiga meter persegi, juga tak terbatas bagai sebuah galaksi
kota yang memimpikan kita semua, yang kita bangun dan robohkan dan bangun lagi sementara kita bermimpi,
aku berbicara tentang kota raksasa, yang realitas kesehariannya terdiri atas dua kata: yang liyan
dan di setiap mereka ada sebuah aku yang dipetik dari sebuah kami, aku yang hanyut
Octavio Paz, I Speak of the City
Bagaimana kita menafsir Indonesia hari ini? Kehidupan bersama yang tergerus oleh keserakahan, korupsi, kekerasan dan kejumudan. Orang-orang miskin di kota yang digusur pemukiman dan pekerjaannya; dan terlantar, teronggok bagai sampah namun tetap lentur dan liat menjaga kehidupannya, walau tidak diakui sumbangan dan haknya. Orang-orang gunung yang awas menyiasati perubahan jaman dan merawat akar kehidupannya. Puluhan ribu warga desa-desa di Porong yang digusur oleh lumpur keserakahan pemodal, diinjak-injak hak hidup dan peradabannya, kemanusiaan dan masa depannya. Indonesia yang semakin urban tetapi sumberdaya alamnya habis dikuras, hasilnya mengalir ke pusat-pusat perekonomian dunia dan saku mereka yang berkuasa. Bencana alam, nyawa yang tak lagi berharga, anak-anak yang putus sekolah, anak-anak yang mengalami malnutrisi, orang-orang yang hilang harapan, membunuh dirinya karena kemiskinan, gaya hidup bermewah orang-orang super kaya, dan penguasa politik yang pura-pura peduli tetapi ketahuan tuli dan tidak becus.
